Minggu, 18 Oktober 2020 0 komentar

Membaca Buku Ikigai, Untuk Hidup Yang Lebih Bermakna

Kemana harus saya cari hidup yang bermakna ?

Begitulah pikiranku beberapa bulan terakhir setelah lulus dari perkuliahan S1 tahun kemarin. Setelah beberapa saat saya teringat istilah Ikigai.

Tak sabar menunggu antrian pinjaman buku di aplikasi perpustakan nasional, akhirnya saya beli  buku yang menjelaskan makna dan kesenangan hidup asal Jepang tersebut.

fimela.com

Buku berjudul The Book of Ikigai karya Ken Mogi ini bercerita tentang filosofi hidup ala Jepang yang memberikan motivasi, gairah, semangat dan tujuan untuk menjalani hiduo melalui kisah kisah inspiratif.

Sekarang aku paham ada banyak buah-buahan berharga puluhan ribu yen di Jepang. Juga sushi berharga sangat mahal.

Dalam buku itu, dituliskan 5 pilar untuk mencapai ikigai, yaitu awali dengan hal kecil, bebaskan dirimu, keselarasan dan kesinambungan, kegembiraan dalam hal hal kecil, dan terakhir adalah hadir di tempat dan waktu sekarang.

“Menjadi Tangguh dalam hidup itu penting, terutama mengingat bahwa kehidupan di dunia ini makin kacau dan tidak dapat diprediksi.”

Quote favorit saya dari buku ini.

Pembahasan ini juga pernah di bahas oleh Gita Savitri Savitri di akun Youtube nya.

Buku ini sangat rekomendasikan untuk memulai menata hidup kamu Kembali. Buku ini bisa dibeli di official store Mizan Publishing di e-commerce Shopee.

Semoga hidupmu tak hilang arah lagi :)

 


Senin, 01 Juni 2020 0 komentar

Gaun Jakarta Hari Ini

Sudah lama sekali sejak terakhir menuliskan kehidupanku di blog ini. Aku betul-betul sibuk dengan kehidupan baruku akhir akhir ini yang agendanya berubah, tata caranya berubah, jam kerjanya berubah, dan lain lain. Aku sampai tidak tahu harus melakukan apa saja karena Senin sampai Jumat hanya untuk bekerja dan Sabtu dan Minggu untuk tidur atau mungkin bercerita dengan orang orang di kehidupan nyata.

Sampai saat ini tepat 10 bulan aku tinggal di Jakarta setelah kelulusan kuliah di tahun 2019. Rasanya luar biasa. Pengalaman senang, sedih, lelah, kecewa, takut. Semua perasaan itu bahkan sepertinya sudah aku rasakan.

Senang saat akhir bulan baru gajian, sedih saat kesepian, lelah saat kerja berlebihan, kecewa saat ekspektasi tak sesuai harapan, takut dan menyeramkan saat banjir dan corona menyerang juga begitu lekat ada di ingatanku selama 10 bulan ini.

Aku adalah pribadi yang menghitung bahwa air mata banyak sekali jatuh saat aku tinggal di Jakarta. Air mata itu adalah pengurai semua sedih, marah, kecewa dan ketakutanku. 

Tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, bahwa teman teman kerja itu sangat berbeda dengan teman kuliah. Sangat berbeda. Kita harus betul-betul berhati hati. 

Tidak pernah aku bayangkan juga sebelumnya, di tahun pertama kelulusan dan kerjaku, aku harus mengikuti ujian tes dasar untuk calon PNS di Tasikmalaya dan langsung lolos ke tahap terakhir. Meski sekarang aku sangat menyadari, ada self control yang membuatku ragu untuk melanjukan ke tahap itu.

Dan yang paling membekas tentu saja, aku harus menghadapi banjir besar Jakarta di awal tahun 2020 dan kerja dari rumah sampai dua setengah bulan. Aku menghela nafas betul betul panjang saat itu, ditambah pekerjaan makin bertambah hingga harus bekerja hampir 12 jam, bulan Ramadhan, karantina di rumah, pembatasan sosial skala besar dan lain lain.

Banyak sekali nilai kehidupan yang aku ambil. Aku merasa beruntung langsung merasakan ini di awal awal kehidupan dewasaku. Banyak sekali nilai kehidupan tentang sabar, ikhlas, kuat, dan disiplin juga produktivitas yang aku dapatkan.

Aku terpaksa harus menghapus aplikasi instagram selama 8 bulan karena menimbulkan gangguan mental berkepanjangan.

Tapi nyatanya, hidup di Jakarta tidak semenyeramkan yang dibayangkan. Di Jaakarta, aku suka sekali mengurai setiap keadaan sedih, marah dan kecewaku dengan berjalan sendirian. Aku begitu menikmati menaiki transjakarta dari selatan ke utara, aku menikmati perjalanan dengan kereta dan lain lain.

Aku bertumbuh sekali di kota ini. Lekat-lekat aku pandangi pengemis di Jakarta, tukag sapu di jalan Jakarta, tukang parkir di Jakarta, tukang ojek online, dan lain lain.

Semua di kota ini, yang mereka lakukan, adalah untuk bertahan di sebuah tempat yang bernama Ibu kota.
Minggu, 08 Desember 2019 0 komentar

Makan di Nasi Ayam Hainan Otentik Wancan

Pertama kalinya dapat libur kerja pas weekend meski hanya satu hari. Jarang-jarang bahkan nggak pernah. Libur weekday atau weekend itu sebenarnya memang tetap libur tapi suasananya tetap beda. Kalau libur weekday itu meski libur ya kerasa nggak libur karena di jalan nemunya orang-orang mau berangkat kerja. Beda kalau weekend, ketemu di jalan sama orang yang mau jalan-jalan dengan pakaian yang dandy. Ok, mungkin aku terlalu rindu jalan pas hari Sabtu dan Minggu meski macet dan capek di jalan.

Libur minggu ini patut disyukuri dan dirayakan. Selasa kemarin ketemu temen dekat pas kuliah. Membahas dari hal yang penting sampai ke yang penting banget. Nggak ada lagi masalah receh sekarang, ahahaha, karena semakin dewasa cerita kita semua adalah keluhan. Lol. Soalnya dari relationship, pertemanan, keluarga, karir dan pendidikan di bahas disini. Libur hari Sabtunya, punya ekspektasi olahraga di GBK, namun realitanya malah makan-makan dan beli sepatu di daerah blok M sampai Cipete.

Dari instagram jktfoodstreet, si Nadya mengajakku makan nasi hainan di daerah Cipete. Lokasinya di dekat stasiun MRT Cipete, cukup jalan kaki 5 menit. Tadinya ke blok M dulu sih, jadi naik MRT dari stasiun Blok M. Lalu sekitar jam setengah 6, kita sampai di restoran autenthic hainan chicken rice ala Singapura ini di Komplek Golden Plaza blok E di Cipete. Restorannya beneran terpencil dan masuk banget sih ke dalem, tapi yaudah lah ya. Intinya rasa dan harga ada koentji.

Sesampainya di lokasi, emang restorannya otentik banget sih sama tipografi ala China. Sempet waswas juga kalau restoran ini nggak halal, soalnya cuma ada tulisan no pork no lard tapi di instagramnya ternyata ada keterangan HALAL-nya guys.


Pas masuk disambut dengan spot instagramable yang sungguh hao che banget. Ini cocok buat welcoming pose ala-ala. Di meja pelayanannya pun digantung ayam ayam yang bakal di poached and roasted. Masuk lagi ke dalam restorannya sepi banget. Tadinya cuma ada satu pengunjung selain kita, tapi dia juga keluar jadinya tinggal kita aja pengunjungnya. No hard feeling atau no mind karena emang restorannya buka jam 17.00 WIB – 21.00 WIB. Dan abis magrib memang makin banyak pengunjung kok.


Menunya masih sedikit. Kita sama-sama pesan roasted chicken rice set size reguler dan satu sharing menu yaitu siomay yang mirip dimsum gitu. Minumnya air putih beli di indomart hahaha. Konsep pelayanannya itu self servis, jadi kita yang ngambil makanan dan naruh makanannya pas udah selesai.



Untuk rasanya sih, yaaa... ini yang suka menu otentik pasti bakalan suka. Tapi jujur, aku merasa kecewa sih, soalnya biasa banget rasanya (menurutku). Ini emang rasa otentik hangat ala-ala jahe gitu, tapi kurang banget rasanya. Kalau menurutku kurang gurih nasi hainannya, ayamnya juga biasa aja. Salah satu yang bikin beda yaitu sambal dan jahenya saja, itu cukup unik. Dan untuk siomaynya baru bisa dikatakan enak, karena otentik rasanya, aku suka aja.


Untuk harganya itu semuanya Rp. 94.000 include tax. Nggak terlalu mahal dan patut untuk dicoba untuk yang sudah lama ingin makan nasi ayam hainan. Eh, terakhirnya kita balas dendam ke Blok M Square lagi beli Es Duren soalnya lagi ada pesta durian disana.

Kalau kesana lagi? Kayaknya enggak deh. Hehehe... Tapi jalan jalan kali ini cukup sih untuk memboost semangat untuk kerja 6 hari kerja kedepan demi menyambut event :)

PS: WiFi nya kenceng :)





WANCAN
@wancan.jkt
HALAL
Senin - Minggu : 11.00 – 14.30 & 17.00 – 21.00 WIB
Komplek Golden Plaza blok E-26, Jl. RS Fatmawati Raya, Gandaria Selatan, Jakarta Selatan.

Teks: Putri Nabil
Foto: Putri Nabil
Sabtu, 20 Juli 2019 0 komentar

#TidakSendiri Bagian 1 – Adit dan Bogor

Jam 11 siang waktu itu, saat Adit mengabarkan kepada saya kalau dia sudah pulang kerja. Iya, dia kena lembur dan shift malam. Saat itu dia mengirimkan jadwal off dari kantornya, artinya di hari hari tersebut dia bisa pergi bersama saya.

Dia selalu berkata kepada saya bahwa tidak banyak yang bisa saya bantu mengatasi rasa khawatir yang berlebih. Tapi dia selalu mengatakan kepada saya bahwa selama dia bisa membantu, dia akan selalu menemani saya baik via chat atau sekedar menjadi teman bicara.

Bagi saya, penting sekali kehadirannya di tengah-tengah perasaan takut yang menghantui. Rabu kemarin, dia mengajak saya ke Bogor. Kita berbicara banyak hal di taman sempur. Mungkin it sounds usual yah, but trust me, sesederhana itu caranya membuat orang yang sedang membutuhkan teman bicara bahagia. Selain itu saya juga merasa nyaman ada di Bogor. Banyak kenangan indah dan waktu produktif saya habiskan disana. Setelah itu, makan siang di warung SS Yasmin dengan menu ikan bakar kesukaan saya. Di traktir pula.

Kami ini tidak pernah bertemu, tetapi Adit selalu bersedia mendengarkan curhatan dan keluh kesah saya dari waktu ke waktu. Tidak pernah keluar kata kata menghakimi, meskipun saya bercerita tentang keputus asaan berkali-kali.

Dia senantiasa membantu menghalau kesepian saya, mengantarkan saya pulang ke rumah, juga menjadi pendengar yang baik.

Terima kasih, Adit...


Minggu, 14 Juli 2019 0 komentar

Melawan Depresi

Iya. Blog ini masih ada. Saya pun masih ada. Memang setelah lama sejak terakhir memposting tulisan yang terakhir saya upload lewat blog ini. Sebenarnya ada banyak sekali ide yang ingin saya buat menjadi tulisan, namun sepertinya ada yang salah dengan kesehatan jiwa yang menyita waktu, batin, dan pikiran saya.

Menuliskan tentang ini sebenarnya menjadi sebuah tantangan yang membuat saya berpikir berulang kali. Mengingat besar sekali kemungkinan bahwa tulisan ini akan dibaca oleh adik dan kakak tingkat, teman-teman seangkatan, teman orang tua, bahkan kedua orang tua saya.

Saat membicarakan kesehatan jiwa dan mental, mungkin ada 4 kemungkinan yang muncul dalam pikiran banyak orang. Pertama adalah manusia tanpa busana yang tanpa malu berjalan di jalan raya, yang kedua mungkin adalah manusia yang sering melamun lalu tertawa dan senyum senyum sendirian, kemungkinan lain adalah manusia yang dipasung dan dikurung di ruangan khusus. Ketiga contoh diatas mungkin menggambarkan potret gangguan jiwa di Indonesia. Gangguan seperti itu, disingkat dengan satu kata yaitu “gila” atau lebih sopan biasa disebut dengan kata “stress”.

Dan terakhir yang mungkin sekarang sedang boom adalah bunuh diri. Karena banyak sekali public figure korea ataupun dunia yang bunuh diri gara-gara punya mental health yang bermasalah. Mungkin 4 contoh diatas adalah gambaran kebanyakan orang tentang gangguan pada jiwa dan mental.

Rasanya saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari saya mengalami stress atau mungkin depresi yang memaksa saya harus mengkonsumsi obat dengan dosis tinggi sebagai penenang. Seorang dokter umum bahkan menyarankan saya ke psikiater supaya bisa diresepkan antideressant.

Saya tidak masalah sama sekali ketika harus pergi ke psikiater. Saya bisa ke rumah sakit sendiri, menghiraukan stigma bahwa ke dokter spesialis jiwa umumnya gila, saya juga adalah pribadi yang menganggap kesehatan mental itu sangat penting. Satu-satunya alasan yang membuat saya berat adalah antidepressant. Rasanya berat sekali harus mengkonsumsi itu, meski mungkin saya butuhkan untuk menyeimbangkan zat kimia di otak saya. Tapi, rasanya saya ingin mencoba ikhtiar dengan cara lain agar tidak ketergantungan dengan obat-obatan.

Dan, oh ya. Manifesti dari stress seseorang itu macam-macam. Saya sendiri mengalami morning sickness seperti muntah-muntah, sakit kepala, dan lain-lain. Waktunya cukup lama. Sehingga bisa membuat saya berpikiran yang tidak-tidak. Padahal ternyata, selidik punya selidik asam lambung saya meningkat karena stress, tekanan darah saya ada di bawah rentang normal. Sama seperti kesetrum, cara memutuskan aliran listriknya adalah dengan cara memutuskan saklar atau mencari isolator. Ini bukti bahwa pikiran buruk bisa membuat badan kita menjadi lemah. Saya pernah curhat kepada seorang dokter, imun tubuh seseorang sangat dipengaruhi oleh pikiran karena 55% sakit fisik disebabkan dari psikis.

Setahun belakangan ini saya memang merasa nggak content. Somehow recently saya merasa kurang. Biasanya saya setiap mau masuk SD, SMP, SMA, dan universitas sudah terbayang ingin masuk mana dan berusaha mendapatkan itu semua. And, here i am. Saya bisa. Tapi selepas memasuki ruang sidang skripsi sebetulnya selain tegang, hal yang paling saya pikirkan adalah khawatir. Ya, khawatir mau seperti apa nantinya. Mau S2, tapi kok sulit ya. Mau kerja, kok kaya ragu. Nah, kerjanya mau jadi apa? BUMN? PNS? Kantoran swasta biasa? Ini aja saya pun tidak tahu dan masih ragu saja. Saya seperti kehilangan jiwa-jiwa ambisius yang selama ini membantu saya dalam berkonsentrasi dan berpikiran positif. Perasaan seperti itu yang membuat triggered by physical exhaustion. Saya jadi perhitungan dan menghitung segala mimpi yang mungkin saja terkubur gara-gara ini.

Saya merasa skeptis. Saya merasa tidak berguna, sedih, khawatir, panik, dan lain-lain. Sering juga terpikir bahwa saya mungkin bisa mati sia-sia. Makin takut lah nggak bisa bahagiain orang tua dan mewujudkan cita-cita. Episode belakangan ini sih yang it wasn’t worst, but it was pretty bad. Saya sampai sakit dan merasa sudah tidak bisa dikatakan biasa.

Saya tidak ingin berdiam diri. I am in the way to search a help. Meski memang belum ke profesional help yang berkaitan dengan ini (re: psikiater). Tapi saya coba mencari bantuan ke teman-teman saya yang kuliah di jurusan psikologi, dokter, dan lain-lain. Juga yang paling utama, get closer to God. Dengan ibadah yang saya coba lakukan penuh dengan pemaknaan.

Selama ini selalu berusaha untuk move on, by doing things normally dan tidak memperhatikan perasaan saya, yang ternyata sakitnya malah repressed di dalam, muncul di alam bawah sadar, dan keluarlah mimpi-mimpi buruk sampai sakit kemarin. Saya berusaha moving on, tapi kemarin sepertinya sudah limit. Ada kalanya hal-hal seperti itu tidak mengganggu, tapi pas bother itu bother sekali. sampai malas ngapa-ngapain dan tidak bergairah. Rasanya seperti menarik diri saja, padahal saya sendiri merasa hal itu tidak membuat diri saya menjadi lebih baik.

But, anyway i am feeling so much better right now. Memang belum seaktif biasanya, tapi sedang berusaha memulai lagi dengan makanan sehat dan olahraga yang kemarin sempat terputus karena harus naikin tensi darah dan nyembuhin si gastritis. Terima kasih juga buat yang sudah chat dan DM di instagram. Yo know, it so much mean for me.

Always hope.

Selama ini memang yang melegakan dan menyelamatkan memang harapan ya.

Bahwa esok lebih baik dan lebih menenangkan lagi.

Let’s have hope.
Kamis, 02 Mei 2019 0 komentar

Catatan Sidang Skripsi

Kontras dengan perjuangan masuk kampus ini 4 tahun lalu, aku begitu bersyukur ketika melewati sidang skripsiku hampir dua bulan yang lalu. Benar, ketika kamu berada di titik akhir, saat itu kamu baru merasa semua yang telah kamu lakukan untuk mencapai titik tersebut terasa cepat sekali berlalu. Tiga setengah tahun merasakan pahitnya berkuliah di kampus ini, terbalaskan sudah di hari ini. Meski senang, tapi sebenarnya banyak kekhawatiran yang melanda hati dan pikiranku. Tentu saja aku berpikir, tepat pada hari ini adalah awal dari status mahasiswa s1 yang baru saja aku lepaskan. Pastinya tantangan yang akan aku hadapi semakin menantang, masalah yang akan aku hadapi semakin kompleks, juga orang-orang yang aku temui pasti akan lebih beragam karakternya. Tapi, aku yakin pasti bisa melewati masa-masa itu.

Pagi itu, aku bangun jam 4 pagi. Bangun tidur, aku sempatkan untuk solat tahajud lalu ku lanjutkan membaca skripsiku dan materi-materi yang mungkin saja diujikan pada sidang skripsiku. Sekali lagi, bermacam-macam perasaan muncul di hatiku. Sebetulnya ada perasaan sedih yang mendalam untuk beberapa alasan. Tapi, ku coba tetap tenang menjalani sidang ini. Selepas subuh, aku kembali membaca skripsiku. Sampai jam setengah 7 pagi, aku bersiap. Aku membereskan buku-buku dan materi yang baru kubaca. Lalu, aku keluar untuk membeli sarapan. Setelah sarapan, aku bergegas mandi dan memakai baju yang telah kusiapkan jauh-jauh hari. Pukul setengah 8, Ongci menjemputku. Teman diskusiku yang satu ini memang luar biasa membantu, dari seminar hasil bulan Januari pun, dia membantuku merapikan slide persentasi, mengkoreksi pemaparan materiku, dan selalu memberi masukan juga tebengan. Ehe :’) Thank you for everything, Ci! Forever, you are my best partner discuss in silly, receh, akademics, and politics things :D

Pukul 09 pun tiba. Ongci dan aku sudah menyiapkan seluruh peralatan di ruang sidang. Pada sidang ini aku dihadapkan pada 4 orang penguji. Kebetulan, aku diuji oleh penguji tamu yang merupakan mantan ketua departemen sebelum pembimbing skripsi ku sekarang yang kini menjabat sebagai ketua departement. Sesuai prediksiku, sidang skripsi ini berjalan sangat serius hahaha. Meski sedikit ada kompor-kompor yang sejujurnya membuatku sedikit panik. Tapi, alhamdulillah, semua berjalan dengan baik dan lancar. Penguji memberikan pertanyaan yang masih bisa kujawab dan kunalar. Selebihnya adalah perbaikan untuk skripsiku. Sidang skripik berjalan sekitar 1 jam 45 menit. 15 menit lebih cepat dari jadwal.


Alhamdulillah, tanggal 12 Maret 2019, akhirnya aku resmi melepas status laj... eh status mahasiswa S1 dengan penuh rasa syukur dan kelegaan. Meski revisi menanti, tapi nggak apa apa tinggal sekali lagi.

Terima kasih untuk seluruh keluarga, teman-teman, juga abang yang tidak berhenti menelponku selesai sidang skripsi. Meski jauh disana, aku yakin kamu mendukung dan mendoakanku dari Jayapura :’)

Doa untuk hari-hari selanjutnya, semoga aku tetap kuat menjalani kehidupan baru yang sedang menunggu, segera bisa membahagiakan kedua orang tua dan keluarga tercinta. Semoga Allah selalu memberikan petunjuknya agar aku bisa melewati apapun yang terjadi di masa depan nanti :)



Alhamdulillah, now i am officially Nabila Dinantiar Adelianoor, S.Pi :D





Selasa, 29 Januari 2019 0 komentar

The Empties and Mini Review

Wow, rasanya seperti rekor dan bangga sendiri kalau bisa menghabiskan suatu produk skincare atau make up. Biasanya kan jarang banget karena aku anaknya bosenan, pengen gonta-ganti, dan cari yang lebih murah hahaha, maklum lah, aku kan mahasiswi missqueen. Tapi ini adalah rekor dimana aku sampai re-purchase 2 – 3 kali. Karena selain murah, aku pastinya suka banget sama produk ini. Kebanyakan sih skincare, tapi ada satu jenis make up yaitu gincu yang sampe aku re-purchase sebanyak 5 kali karena sesuka ituuu, it looked perfect dan paling pas di bibir dari segi warna dan tingkat kenyamanannya, dari segi cocok dipake dimana aja dan occasion apa aja. Btw, produk-produk the empties yang sudah aku re-purchase dan akan aku kasih mini review-nya adalah;
  • Purbasari Colour Matte Lipstick No. 86 (Topaz)
  • Emina Sun Protection SPF 30 PA +++
  • Velrose Secret Organic Mask
  • April Skin Magic Snow Cushion (23 Natural Beige)
Mau masukin mini review, karena kalau full review kelamaan dan biar sedikit keliatan berguna gitu kan hehe.

Yang pertama adalah Purbasari Colour Matte Lipstick No. 86 (Topaz) dulu. Lipstick ini sudah mulai aku pakai sejak tahun 2016. Waw, 3 tahun loh gengs. Dan aku tidak ganti-ganti. Dulu sih warna yang pertama aku pakai adalah no. 88 yaitu amethyst. Tapi sejak tau warna no. 86 yang se-cucok meong itu dipakai Rani dan aku tertarik. Aku beli terus dan masih aku pakai saat ini. Waw, parah sih. Gak pernah aku sesuka dan sesetia ini sama satu warna lipstick. Koleksi lipstik memang banyak, tapi harus selalu punya stok si purbasari no. 86 ini. Belum lagi harganya yang super mursida alias murah. Dulu di Al-Amin masih sekitar 31 ribu, terus gara-gara sering langganan toko samahargashop di shopee harganya jadi 21 ribu. Parah emang hahahaa. Maklum ya, aku bilang kan mahasiswi missqueen.

pinterest.id

Purbasari ini warna nya merah bata gitu. Aku suka, karena basically, aku memang nggak terlalu suka pakai lipstik nude. Dunno why. Bentuk lipsticknya tabung gitu dan wanginya gak mengganggu sih. Satu-satunya yang jadi kekurangan lipstick ini menurutku adalah gampang banget patah di dalam. Udah kaya hati aja ya kan. Jadi, lipstick ini sekali jatuh, besar sekali kemungkinannya buat patah. Bikin bete banget sih, tapi masih bisa dimaafkan karena kelebihannya lebih banyak dan tentu saja karena sudah kadung cinta.

Terus gimana tingkat kekeringannya? Dulu sih sewaktu belum pakai vaseline lip therapy se-bagus apapun claim lipstick pasti bikin bibir ngelupas. Tapi sejak pakai lip therapy, fine-fine aja sih.

Ternyata banyak juga sih temen aku yang pake warna ini. Ibu aku juga pake. Malah hadiah seminar aku dari Widya kan lipstick ini ya, diminta sama ibu gara-gara ibu ku juga pake lipstik dengan shade 86 (Topaz) ini. Soalnya kalau menurut aku, lipstick ini gak cuma cakep di warna bibir yang terang. Kayaknya semua warna bibir masuk. Dia ini untuk warna bibir yang masih pink cakep banget, warna merah bata keliatan seger gitu karena ada hint orange nya juga. Terus yang bibirnya nggak pink atau pun nggak hitam, lipstick ini beneran keliatan real merah bata. Dan di bibir yang warna nya kehitaman, lipstick ini jadi keliatan kaya warna brown choco. Aduh, cantik banget.Aku beneran nggak bisa berpindah ke lain hati. Buat yang suka warna-warna lipstick yang nggak bold tapi nggak nude juga, lisptick ini recommended banget. Tinggal kalian sesuaikan aja harus berapa kali poles.

Yang kedua adalah Emina Sun Protection SPF 30 PA +++, merupakan sister brand dari Wardah dan Make Over. Packaging-nya yang unyu-unyu dan harganya yang murah tentu saja jadi alasanku membeli produk ini. Semenjak setahun lalu concern memakai skincare, sunscreen merupakan produk wajib yang harus dipakai. Entah waktu masih pakai 10 steps korean skincare atau minimalist skincare kaya sekarang. Wajib banget pokoknya.

Tekstur sunscreen ini ringan banget, wanginya juga enak dengan wangi citrus gitu. Pas make sunscreen ini rasanya kayak pake pelembab aja. Enggak ada whitecast (pantulan putih-putih). Meski bikin wajah agak basah gitu. Jadinya kelihatan healthy skin. Tapi sih yang paling penting nggak bikin beruntusan sama nggak bikin komedoan. Kalau lagi berjerawat pra menstuasi, aku nggak pernah pakai make up, cukup pakai sunscreen ini. Pemakaian yang rutin juga bisa menghilangkan bekas jerawat.

sociola.com

Highly recommended buat kalian yang nyari sunscreen murah dengan spf yang so so lah dengan aktivitas di indoor seperti kuliah dan sekolah.

Yang ketika yaitu Velrose Secret Organic Mask. Nothing can’t describe pokoknya. Aku cinta mati sama produk ini. Dari 5 varian maskernya sudah aku coba 4 varian. Dan semuanya cocok. Tapi yang paling dewa sih yang varian carrot tomato nya. Skincare multifungsi yang bisa jadi facial wash, masker, lulur wajah, juga scrub ini sudah aku singgung sedikit juga di 10 steps korean skincare routine. Sayangnya agak mahal kalau sekali beli. Sekitar 100 ribu. Kan lumayan ya kalau lagi nggak punya duit. Hehehe... sejauh ini sih ini masker favorit aku yang absolutelly pasti akan selalu di repurchase (kalau punya duit) tentunya. Kalau kalian menyodorkan pilihan dengan merk merk masker high end, maaf ya, aku bakal tetap pilih masker ini sebagai yang terbaik karena masker ini pernah nyembuhin jerawat aku tanpa ke dokter selama 2 minggu aja.

review.soco.id

Dan yang terakhir yaitu, April Skin Magic Snow Cushion (23 Natural Beige). Pertama kali pakai cushion dan sebenernya aku suka-suka aja sih sama cushion ini. Dulu tuh, aku males banget pake foundation ditambah harus pake concealer. Untuk mengatasinya beli cushion ini katanya yang super high coverage. Meski tone cushion ini keputihan (padahal shade paling gelap lho), tapi lama lama dia bakal oksidasi dan nyesuain sama warna kulit kita kok.

beautynesia.com

Tekstur nya ringan dan bikin muka kelihatan sehat banget. Aku kalau pakai ini juga ga pernah pakai bedak jadi tinggal di tap-tap aja sama blush on cream. Finish dari cushion ini kalau menurutku lebih ke dewy ya, tapi ya ga mengkilat banget. Enak sih. Tapi sepertinya enggak akan aku repurchase. Karena sekarang aku juga lebih nyaman pakai bb cream pixy yang four beauty benefits. Kalaupun pengin pakai cushion, sepertinya aku akan lebih memilih pakai wardah instaperfect, pixy make it glow cushion, atau emina bare face with me.

Yaudah segitu dulu, besok besok kalau ada yang habis aku kasih tau terus aku mini review lagi (kalau lagi mood)

See you next post!
Minggu, 02 Desember 2018 0 komentar

December, a Heartbreaking Month?

Love that once hung in the wall
Used to mean something, but now it means nothing
The enchoes are gone in the hall
But i still remember, the pain of December

Bagi saya barisan lirik dari Avril Lavigne pas banget mewakili perasaan di bulan Desember. Saat menulis ini, hujan bulan Desember yang kembali datang. Merintiki tanah yang ditapaki. Mendung hampir tiap sore menenggelamkan senja di kegelapan. Tak berwarna. Di bagian bumi lain, dingin bulan Desember malah akan mengundang aroma kematian ketika itu dibiarkan. Bulan Desember memang identik ya dengan hujan, kelabu, dingin, sendu dan sepi. Pantas sih, mungkin itu yang menjadi alasan banyak lagu bertema Desember yang penuh kenangan, menguras emosi, kesedihan, kesendirian, dan segala luapan kegundahan. Hahaha. Pas juga ada penawarnya karena tanggal 4 Desember diperingati sebagai Hari Memeluk Internasional. PBB paham banget kalau Desember memang kayaknya bulan patah hati bagi sebagian orang. Kalau kamu ada yang meluk nggak?

Kalau bagi saya, nggak perlu ditanya lah ya betapa patah, terluka, dan berdarah-darahnya saya di bulan Desember 2 tahun terakhir. Rasanya stock akhir mata di awal tahun langsung terkuras habis di bulan akhir tahun itu. Tahun lalu, dengan terpaksa saya melipat semua komitmen, rindu, bayang-bayang dan lain-lainnya. Akibat itulah, rasanya saya jadi malas update di sosial media untuk sekedar menulis welcome Desember. Hahaha. Karena ya itu, i still remember the pain of December. Inget banget sakitnya. Ngebayanginnya aja udah capek. Saking sakitnya jadi saya nggak mau nulis-nulis lagi tentang itu..

Tahun ini, saya kembali membuka awal Desember dengan kesedihan. Tepat jam 10 pagi tadi, saya mendapat kabar duka, bahwa salah satu guru terdekat dan terbaik saya berpulang. Kaget banget. Meninggalnya bukan karena sakit atau kecelakaan. Baru pulang dari Bogor untuk upacara HUT PGRI, langsung bersih-bersih badan, istirahat dan tidak bangun lagi. Its really make me sad indeed. Dulu di SMA, saya ini murid pindahan. Bapak guru ini tiba-tiba menyapa saya. Saya belum hafal semua guru di SMA, semenjak saat itu saya pikir memang Bapak guru ini perhatian banget. Terus pas saya mati-matian belajar SBMPTN di Bogor, saya jadi nggak pernah ke sekolah di Pangandaran. Terus saya lulus SBMPTN, Bapak guru ini sms saya dong, he said “Nabil, selamat ya udah diterima di IPB. Bapak dan seluruh guru di SMA bangga sekali sama Nabil. Bapak beli koran tadi pagi dan bapak sampai terharu ketika ada nama Nabil disana.” Saya terharu dan tersentuh banget saat itu. Di tengah kesedihan ini, saya berdoa semoga beliau ditempatkan di tempat yang terbaik di sisiNya.

Desember ini juga, kayaknya menunggu memang sudah menjadi takdir saya. Ketika saya harus menunggu pulang seseorang yang bahkan baru aja kemarin ketemu eh udah berpisah lagi. Huhuhuhu. Semalam baru ketemu padahal, but this morning he was landing in Surabaya. Penantian saya jadi semakin panjang sih hahaha. Tapi yaudahlah mau gimana lagi? Dan duh, duh.. lagu dari band pop-punk, Neck Deep yang berjudul December ini kayaknya pas banget untuk saya; I’m the last thing you’d remember. Its been a long, lonely December. Untungnya saya sibuk skripsian (meski sebagian orang menganggap skripsian bukanlah suatu keuntungan) atau sibuk sama UTS. LOL. Dan untung juga bulan ini banyak liburnya. Yang jauh nun disana, cepet pulaaaaang. I hope, i can see. You’re not just in dreams.

Semoga aja Desember tahun depan lebih baik ya. Entah ada perayaan apa gitu. Saya dapat kerja yang bagus mungkin. Atau naik pangkat? Atau dapat beasiswa S2? Atau nikah dongg? Hahaha. I hope its a late sun in my next December. Because there’s always reason to believe, that next year will be better than the last. Yes, i hope so.



Minggu, 21 Oktober 2018 0 komentar

When Its Only M & N: #2 Pakuan

M: Dek, rumahmu dari LIPI deket?
N: Deket, sekitar 2 km.
M: Deket yaah.
N: Lumayan. Kalau dari kampus dari mana ke mana?
M: Ya, kira-kira dari kampus ke Pakuan.
N: Ish! 😏
M: Aduh, dek kenapa? Lah, aku kok digebuk? 😙
N: Mana mungkin dari kampus ke Pakuan 2 km lah.
M: Ih, iya, 2 km dari kampus ke Pakuan.
N: Nggak mungkin lah.
M: Kenapa nggak mungkin? Emang segitu estimasinya.
N: Ya, orang dari Dramaga ke Cibinong aja 23.5 km.
M: Ya, 2 km dari kampus ke Pakuan Regency.
N: Ih, ngeseliiiin.
M: Loh, adek kenapa?
N: Ya, adek kira dari kampus ke Unpak.
M: Adeeek! 😒😒😒

Kamis, 18 Oktober 2018 0 komentar

The simplest ways to inspire others

Sambil nungguin unduhan pustaka pendukung skripsi, aku sekalian blog walking. Kalau nggak ke annisast, gracemelia, innnayah, atau bandungdiary. Suka dan betah aja blog walking ke blog-blog ini, mereka ini perempuan-perempuan milenial nan multitalent yang sometimes remember me untuk tetap ngeblog, nulis, atau menyelesaikan skripsi tapi nggak lupa untuk tetap hidup waras dengan menjalankan hobby seperti fotografi, kulineran, painting, dan lain-lain. Empowering woman. Karena simple ways kayak gitu, bisa bikin perempuan-perempuan lain di luar sana berdaya dan produktif.
Sejak menulis blog dari 8 tahun yang lalu (tapi aktifnya baru 5 tahun yang lalu sih), terus resmi jadi penulis novel (meski anak-anak), dan banyak membagikan cerita di facebook, twitter, juga ask.fm (now, instagram), jujur, aku kayak banyak dapat pesan pribadi yang bilang “inspiratif banget” sih. Dan tidak dipungkiri kalau aku senang! :D ya senang saja, karena sharing dan curhatan aku selama ini diapresiasi banyak orang. Dan aku sangat berterima kasih :’)
Meski belum kayak mereka yang pengalamannya udah buanyak banget, mulai dari mengurus anak, suami tapi tetap produktif, belum lagi ada yang kerja jadi jurnalis, menjadi ibu dari seorang anak berkebutuhan khusus, keren banget. Dan aku masih jauh lah dari itu semua.
But, i will get there. Karena bener tuh kata kak annisast, aku kan bukan pendiri GoJek, pemilik Google, atau penerima Nobel yang bisa bikin sesuatu yang gimana gitu buat orang lain. Tapi, siapa tau sharing yang aku tulis di blog bisa bermanfaat ya kaan. Lagian, ketika kita mau menginspirasi nggak harus kok secerdas Einstein atau seinovatif Steve Jobs. Dimulai dari hal kecil, aku kira semua orang waras bisa melakukannya selagi dibiasakan. Gimana caranya?

Be nice.
Ilmu yang aku dapat karena pengalaman pribadi sih. Selain itu, aku menyadari dan merasakan betul kalau perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan juga dari ayat al-quran (Ar-Rahman ayat 60). Dulu, aku tuh suka nggak ngerti sama orang yang dibaikin tapi malah bales dengan kejahatan. Tapi semakin dewasa, kita kan semakin mikir ya. Ya, emang manusia begitu, makanya kalau sudah melakukan kebaikan, yang aku lakukan sekarang agar nggak kecewa ya lower expectations.PR banget buat aku untuk melakukan ini tapi tetap harus be nice. Lagian apa sih untungnya marah-marah? Benar sih kata si Abang, kalau perempuan itu marah-marah lebih banyak nggak mutunya. Dibilang begitu, aku tersinggung dong hahaha. Apalagi kalau dibilang marah marah nggak mutu kita dianggap hiburan buat kaum lelaki. Get it? Nyebelin kan? Daripada maksud hati marah buat narik perhatian nggak sampai, jadi sampai sekarang aku berusaha buat lebih kalem aja sih.
  
Tapi, emang berbuat baik ke semua orang emang nyenengin sih. Bilang terima kasih ke ibu warteg, ke abang gojek, senyum “tulus” kalau ketemu dosen, adik tingkat, OB di kampus. Beneran sehappy itu! Tapi kalau level kamu lebih tinggi, boleh kok dengan sering-sering memberi pujian. Entah itu kepada mbak indomart, mbak yang jualan your tea, penjaga parkir di tempat makan, semuanya dipuji dengan entah warna jilbabnya yang lucu, mukanya yang lebih cerah dan bahagia, terus senyumnya yang berseri-seri.
  
Mendengarkan dengan baik dan merespon dengan antusias.
Setuju kan nggak semua pembicara yang baik bisa jadi pendengar yang baik juga? Sebenernya seni mendengarkan dengan baik penting banget bukan hanya untuk hubungan orang tua dan anak, tapi juga pasangan dan pertemanan. Nggak enak kan kalo punya temen ngobrol yang flat. Ya sebisa mungkin antusias lah.

Oh iyaa? Masaa? Wah baru denger!

Meski nggak mudah sih, apalagi kalau lagi kesel wkwk. Maunya pasti ngedebat mulu. Udah gitu pasti jadinya ngegas padahal hanya masalah yang terkadang sungguh receh. Aku masih belajar sih wkwk. Abisnya suka kesel sama orang yang ngotot. Hehehe. Tapi kalau kayak gitu gimana bisa jadi orang yang mengispirasi kalau nggak usaha untuk diem mah.

Akui kekurangan diri
Benaran ini nggak susah, tapi masalah percaya diri dan gengsi aja sih. Yaudahlah, akuin aja kita juga pernah frustasi, pernah depresi, pernah ngerasain sakitnya ketika jatuh, pernah lebam-lebam. Sekarang ya ngaku aja, nggak punya duit makan di mcd tinggal makan di angkringan. Terus juga terus terang meski proposal udah beres, harus ada harga yang dibayar dengan tangis, atau mungkin dengan bully an orang. Orang tetap appreciate ternyata, ya karena itu semua manusiawi.

Kalem
Nah, kalem. Belajar dari sejak menginjak umur 18 tahun. Lol. Gampang-gampang susah. Kadang so nais kadang bringas. Tapi intinya nggak perlu lah marah marah sekarang, udah capeeek energi abis. Udah nggak ada energi aku tuh buat marah marah. Mending sekarang ngalah aja, kalau enggak nunggu besok buat diobrolin. Kalau malam udah capek, masuk angin, laper. Yowis tinggal tidur.

Sharing
Ini sih yang paling penting. Sharing is caring itu benar banget. Nyatanya aku juga mulai ngerti antara sharing sama pamer karya. Tapi sih yang jadi note disini, pamer karya tidak salah dan sangat diperbolehkan (terserah mau setuju apa enggak ya) wkwk. Kalau pamer makanan atau bepergian, nah kalau aku sih punya batasan dan prinsip membagikan hal-hal seperti ini.
                                             
Just focus on your goal.
Pokoknya ini nih yang jadi pedomanku. Bagiku, orang-orang yang nggak rese dan nggak gampang nyinyirin hidup orang lain itu inspiring banget! Ya udahlah ya, mari fokus ngerjain skripsi, fokus bahagiain orang tua. Intinya fokus ke hidupnya tanpa menyakiti hati orang lain entah sengaja atau tidak sengaja.

Sama aja kaya orang yang kita punya pandangan apapun terus dia juga punya pandangan yang berbeda, its ok to be different, dan santai-santai aja tuh, nggak baper dan tetap berteman sama kita.

Yaudah gitu aja. Wkwk.

So be nice, you never know, whether you try not, you can inspire others, too! (annisast 2018)
 
;