Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 18 Oktober 2018 0 komentar

The simplest ways to inspire others

Sambil nungguin unduhan pustaka pendukung skripsi, aku sekalian blog walking. Kalau nggak ke annisast, gracemelia, innnayah, atau bandungdiary. Suka dan betah aja blog walking ke blog-blog ini, mereka ini perempuan-perempuan milenial nan multitalent yang sometimes remember me untuk tetap ngeblog, nulis, atau menyelesaikan skripsi tapi nggak lupa untuk tetap hidup waras dengan menjalankan hobby seperti fotografi, kulineran, painting, dan lain-lain. Empowering woman. Karena simple ways kayak gitu, bisa bikin perempuan-perempuan lain di luar sana berdaya dan produktif.
Sejak menulis blog dari 8 tahun yang lalu (tapi aktifnya baru 5 tahun yang lalu sih), terus resmi jadi penulis novel (meski anak-anak), dan banyak membagikan cerita di facebook, twitter, juga ask.fm (now, instagram), jujur, aku kayak banyak dapat pesan pribadi yang bilang “inspiratif banget” sih. Dan tidak dipungkiri kalau aku senang! :D ya senang saja, karena sharing dan curhatan aku selama ini diapresiasi banyak orang. Dan aku sangat berterima kasih :’)
Meski belum kayak mereka yang pengalamannya udah buanyak banget, mulai dari mengurus anak, suami tapi tetap produktif, belum lagi ada yang kerja jadi jurnalis, menjadi ibu dari seorang anak berkebutuhan khusus, keren banget. Dan aku masih jauh lah dari itu semua.
But, i will get there. Karena bener tuh kata kak annisast, aku kan bukan pendiri GoJek, pemilik Google, atau penerima Nobel yang bisa bikin sesuatu yang gimana gitu buat orang lain. Tapi, siapa tau sharing yang aku tulis di blog bisa bermanfaat ya kaan. Lagian, ketika kita mau menginspirasi nggak harus kok secerdas Einstein atau seinovatif Steve Jobs. Dimulai dari hal kecil, aku kira semua orang waras bisa melakukannya selagi dibiasakan. Gimana caranya?

Be nice.
Ilmu yang aku dapat karena pengalaman pribadi sih. Selain itu, aku menyadari dan merasakan betul kalau perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan juga dari ayat al-quran (Ar-Rahman ayat 60). Dulu, aku tuh suka nggak ngerti sama orang yang dibaikin tapi malah bales dengan kejahatan. Tapi semakin dewasa, kita kan semakin mikir ya. Ya, emang manusia begitu, makanya kalau sudah melakukan kebaikan, yang aku lakukan sekarang agar nggak kecewa ya lower expectations.PR banget buat aku untuk melakukan ini tapi tetap harus be nice. Lagian apa sih untungnya marah-marah? Benar sih kata si Abang, kalau perempuan itu marah-marah lebih banyak nggak mutunya. Dibilang begitu, aku tersinggung dong hahaha. Apalagi kalau dibilang marah marah nggak mutu kita dianggap hiburan buat kaum lelaki. Get it? Nyebelin kan? Daripada maksud hati marah buat narik perhatian nggak sampai, jadi sampai sekarang aku berusaha buat lebih kalem aja sih.
  
Tapi, emang berbuat baik ke semua orang emang nyenengin sih. Bilang terima kasih ke ibu warteg, ke abang gojek, senyum “tulus” kalau ketemu dosen, adik tingkat, OB di kampus. Beneran sehappy itu! Tapi kalau level kamu lebih tinggi, boleh kok dengan sering-sering memberi pujian. Entah itu kepada mbak indomart, mbak yang jualan your tea, penjaga parkir di tempat makan, semuanya dipuji dengan entah warna jilbabnya yang lucu, mukanya yang lebih cerah dan bahagia, terus senyumnya yang berseri-seri.
  
Mendengarkan dengan baik dan merespon dengan antusias.
Setuju kan nggak semua pembicara yang baik bisa jadi pendengar yang baik juga? Sebenernya seni mendengarkan dengan baik penting banget bukan hanya untuk hubungan orang tua dan anak, tapi juga pasangan dan pertemanan. Nggak enak kan kalo punya temen ngobrol yang flat. Ya sebisa mungkin antusias lah.

Oh iyaa? Masaa? Wah baru denger!

Meski nggak mudah sih, apalagi kalau lagi kesel wkwk. Maunya pasti ngedebat mulu. Udah gitu pasti jadinya ngegas padahal hanya masalah yang terkadang sungguh receh. Aku masih belajar sih wkwk. Abisnya suka kesel sama orang yang ngotot. Hehehe. Tapi kalau kayak gitu gimana bisa jadi orang yang mengispirasi kalau nggak usaha untuk diem mah.

Akui kekurangan diri
Benaran ini nggak susah, tapi masalah percaya diri dan gengsi aja sih. Yaudahlah, akuin aja kita juga pernah frustasi, pernah depresi, pernah ngerasain sakitnya ketika jatuh, pernah lebam-lebam. Sekarang ya ngaku aja, nggak punya duit makan di mcd tinggal makan di angkringan. Terus juga terus terang meski proposal udah beres, harus ada harga yang dibayar dengan tangis, atau mungkin dengan bully an orang. Orang tetap appreciate ternyata, ya karena itu semua manusiawi.

Kalem
Nah, kalem. Belajar dari sejak menginjak umur 18 tahun. Lol. Gampang-gampang susah. Kadang so nais kadang bringas. Tapi intinya nggak perlu lah marah marah sekarang, udah capeeek energi abis. Udah nggak ada energi aku tuh buat marah marah. Mending sekarang ngalah aja, kalau enggak nunggu besok buat diobrolin. Kalau malam udah capek, masuk angin, laper. Yowis tinggal tidur.

Sharing
Ini sih yang paling penting. Sharing is caring itu benar banget. Nyatanya aku juga mulai ngerti antara sharing sama pamer karya. Tapi sih yang jadi note disini, pamer karya tidak salah dan sangat diperbolehkan (terserah mau setuju apa enggak ya) wkwk. Kalau pamer makanan atau bepergian, nah kalau aku sih punya batasan dan prinsip membagikan hal-hal seperti ini.
                                             
Just focus on your goal.
Pokoknya ini nih yang jadi pedomanku. Bagiku, orang-orang yang nggak rese dan nggak gampang nyinyirin hidup orang lain itu inspiring banget! Ya udahlah ya, mari fokus ngerjain skripsi, fokus bahagiain orang tua. Intinya fokus ke hidupnya tanpa menyakiti hati orang lain entah sengaja atau tidak sengaja.

Sama aja kaya orang yang kita punya pandangan apapun terus dia juga punya pandangan yang berbeda, its ok to be different, dan santai-santai aja tuh, nggak baper dan tetap berteman sama kita.

Yaudah gitu aja. Wkwk.

So be nice, you never know, whether you try not, you can inspire others, too! (annisast 2018)
Selasa, 16 Oktober 2018 0 komentar

World Mental Health Day: Memerangi Depresi

Dalam rangka memperingati hari kesehatan mental sedunia tanggal 10 Oktober kemarin, boleh ya saya bercerita bagaimana saya menghadapi salah satu masa sulit (dimana masa tersebut sangat mengguncang mental saya) satu tahun yang lalu. Cukup deg-deg an soalnya takut membuka luka lama dan memang belum pernah diceritakan secara terbuka. Tapi semoga bermanfaat karena saya percaya sekali kalau sharing is caring dan juga depression is a real.

Saya menghadapi masa tidak mengenakan satu tahun lalu, dimana in the condition, pengaruhnya sangat signifikan terhadap diri saya dan juga keseharian saya (i was hurt a lot) physically and not physically. Sebenarnya, mental yang tidak sehat itulah yang menjadi sebab utama i was hurt a lot for physically too. Karena jangan salah, ternyata sakit mental itu bisa merembet kemana-mana.

Sebelum menceritakan how i was battling the depression, sedikit saya bercerita, bahwa saya kehilangan seorang teman diskusi yang menemani saya lebih dari satu setengah tahun. Sebelumnya, saya menganggap dirinya adalah my other half saya, karena kami selalu berbagi resah dan gelisah, kami selalu share indeks prestasi kami setiap di akhir semester, berdiskusi tentang teknologi juga politik bahkan agama. And, in fact, i stopped to do these again, saking saya merasa kehilangannya.

Selama kurun waktu 11 bulan, i damn remember that, i lost my weight almost to 10 kg. Wow. How depression made me thiner. Did i love it? No, at all. Because, no deny, i was in sick. Saya tidak diet saat itu. Dan faktanya saya memang sakit. Bagi orang depresi, makan sebergizi apapun, nutrisi tetap tidak mampu diserap sempurna oleh tubuh. Belum lagi insomnia akut. Tapi, alhamdulillah, insya Allah, saya sudah sembuh dari perasaan tidak mengenakan tersebut.

Ini yang saya lakukan ketika mengalaminya:

1. sharing
Cerita kepada orang tua dan teman dekat. I kept my self to closer to my closest persons. Saya selalu bercerita kepada ibu. Karena jujur, ibu saya juga ikut merasakan kesedihan yang luar biasa, jadi kami lebih cocok bercerita satu sama lain (selain menguatkan satu sama lain), lalu kepada teman-teman dekat. Alhamdulillah, semua teman-teman saya luar biasa baiknya! Huhuhu. Saya sering banget hilang dari kost dan nginep di rumah teman-teman saya. Bercerita kepada teman-teman saya juga meminimalisir perasaan bersalah dan kesepian, supaya pikiran saya tidak kemana-mana dan tidak sering melamun.

2. being active and healthy
Awal tahun, i was so often to do jogging. Sekarang malah nggak pernah. Hehehe...saya jadi sering olahraga, juga sambil menyendiri saya sering pergi ke gladiator IPB sore-sore sendiri.

3. do good hobbies
Spend time with people i love, make up, cooking, writing, painting, watching the drakors, hang out, go to salon, and shopping are my self healings. Tapi yang paling menyembuhkan itu bagiku tetap saja menulis. Karena lebih private, saya mulai menulis kembali di buku diary. Wrote. I wrote some poetries. Some letters to my self. Nggak bisa dipungkiri sih, seni dan olahraga memang salah satu penangkal stress dan depresi. Coba gugling sendiri ya, ada kok penjelasan ilmiahnya. Kalau saya lagi nulis, masak, paint, juga dandan, waw.. what an achievement, i can live without handphone as the biggest distraction nowdays. Mungkin juga karena this reasons. Meski kadang-kadang, ketika nulis atau melukis, saya nangis lagi, lagi, lagi. Huhuhu, gagal lagiiiii. Abis sedih banget sih lol T_T

4. me time
Me time perlu banget dong. Hal-hal yang saya lakuin, take breaks to see and introspection what’s wrong. Saya sering sekali merenung, apa yang salah dengan semua ini, kalau seperti ini terus apa akibatnya. Pikiran dan afirmasi tersebut bagus banget untuk membantu hati kita menerima kebenaran, tidak melulu menyalahkan diri sendiri, dan siap menerima kehidupan yang baru. Bisa juga dengan tidur (meski tetap aja sih, saya tidur juga kebangun-kebangun gitu) haha. Dan penting menyadari bahwa; menangis sangat diperbolehkan. Biarlah saya menumpahkan semua air mata saya sampai lega. Juga, tentu saja meminta kekuatan kepada Tuhan (bisa dengan beribadah, membaca kitab suci, dll), satu hal yang penting juga, saya selalu hide dan block akun-akun yang membuat perasaan saya semakin nggak enak. And the last, it’s ok to puk-puk your self :)

5. persective
Sangat banyak orang-orang yang diuji dan ada di posisi down, in the next steps, mereka justru look stronger. Hal ini tidak bisa didapat ketika mereka pesimis dan skeptis terhadap kehidupan. Bagi saya perspektif atau cara seseorang melihat sesuatu juga menjadi senjata dimana kita bisa memerangi depresi, contohnya seperti mengurangi kritik terhadap sendiri, menutup telinga terhadap komentar orang lain, yakin bahwa Tuhan akan mempermudah segala urusan kita, memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri, sadar bahwa kita bukan satu-satunya orang yang selalu diuji dan ada di posisi susah, dan meyakini diri sendiri bahwa there’s rainbow after the rain. Afirmasi positif itu sangat penting dalam bertahan di posisi sulit loh, saya sendiri sudah membuktikannya.

Did i seek for professional help?

Jawabannya, yes i did! Bagi saya dengan ngobrol dan curhat kepada psikolog atau psikiater penting banget untuk membantu meyakinkan bahwa ketika saya sedih, itu normal dan make sure bahwa saya mengambil langkah-langkah yang tepat untuk sekarang dan ke depannya. Ketika saya sudah ke psikolog (layanan konsultasi gratis dengan profesional helper di IKK & fortunatelly, saya punya teman SMP yang kuliah jurusan psikolog di UNPAD, juga ada teman ibu), artinya masalah itu sudah sangat mengganggu keberfungsian saya sehari-hari, seperti tidak konsen belajar di kelas, melamun terus, insomnia akut, kehilangan berat badan secara drastis, dan lain-lain.

Psikolog bagi saya berperan seperti membantu meluruskan benang benang kusut di kepala kita untuk benar benar tau apa sebenarnya yang mengganggu, apa inti permasalahannya, dan mereka akan membimbing kita untuk menemukan jalan keluar.

Alhamdulillah, hidup saya berjalan lebih baik. Mungkin karena saya juga memperluas pertemanan saya dan menemukan teman-teman baru, dan (teman diskusi baru)! :) dan ingat ketika kita menemukan orang orang baru, effort to lower our expectations, karena bagaimanapun mereka juga manusia biasa yang sangat memungkinkan (bisa) mengecewakan kita suatu saat. (tapi semoga tidak ya)

On the top of all, of course, jangan lupa untuk selalu berusaha memaafkan dan menerima diri sendiri yah. Dan juga untuk orang-orang yang telah mendampingi diriku di masa-masa sulit (you know who you are, dan saya selalu berdoa semoga kebaikan kalian semua dibalas berkali-kali lipat oleh Allah SWT) terima kasih :’))
Sabtu, 07 Juli 2018 0 komentar

Semoga (ini) Yang Terakhir

Mungkin sudah sejak lama kita saling menyembunyikan perasaan dari satu sama lainnya. Entah perasaan apa. Yang pasti ada perasaan sedih yang tak ingin diketahui oleh siapapun. Juga ada khawatir yang tak ingin tertangkap dari sorot mata. Ada keraguan yang tak ingin terdengar oleh telinga orang-orang yang sedang berjuang bersama. Ada harap yang kuat namun tak ingin terlihat karena takut berujung kecewa. Tanpa kesepakatan, semua itu mengalir begitu saja karena kita masih ingin saling mengikat dan membersamai di dalam doa-doa dan rasa percaya.

Sebagaimana badai di lautan yang akan mengalami masa tenangnya. Begitupun, dengan sedih dan senang yang tidak selamanya. Gulungan ombak yang menggulung tak tenang bahkan sampai pasang tertinggi pun pasti ada akhirnya. Namun, yang selalu menjadi pertanyaan “Bagaimana dengan akhirnya?” meski kita tau bahwa setiap akhir-akhir ikhtiar dan doa yang terpanjatkan adalah mutlak atas dasar kehendakNya.

Bersandar pada manusia tidak akan pernah menjanjikan apa-apa selain kecewa. (pun) sama halnya bersandar pada diri sendiri yang tiada upaya tanpa dimampukanNya. Maka kita hanya bisa meminta agar Dia berkenan menolong dengan cara-cara istimewa yang tak ada dalam pendeknya akal kita sebagai manusia. Pun jika semua harus berakhir dan bertemu tepiannya, semoga Dia memisahkan dalam kebaikan, menenangkan dan memeluk hati siapapun yang bersedih namun tetap mampu menerima ketetapanNya, dan mengganti dengan kebaikan kebaikan lain yang bukan hanya lebih baik, namun terbaik untuk kita.

Semoga tangis itu mereda, kekecewaan itu sirna, tawa, semangat juga ceria terkembang seperti sedia kala, dan doa-doa itu tetap terlangitkan meski kita tak tau dimana doa dan ikhtiar tersebut harus bermuara :’)
Rabu, 09 Mei 2018 0 komentar

Sudahkah kamu selesai dengan dirimu sendiri?

“Aku berterima kasih, kamu mau mengantarku pergi jalan-jalan keliling kota Bogor.” Ujar seorang perempuan berkerudung coklat muda yang duduk tepat disamping tempat dudukku.

Aku tersenyum. Dia keliatan ceria sekali. Rasanya dia memang benar-benar butuh merefresh pikirannya setelah berkuliah sepanjang minggu ini. Begitu juga aku. Senyumnya merekah, beda sekali dengan keadaan dirinya sekitar 5 bulan yang lalu. Dia menangis tergugu di hadapanku, mukanya pucat sekali karena kurang makan dan kurang tidur. Tentu saja karena semalaman menangis. Sekarang yang kulihat dia tersenyum manis, kurasa luka-luka hatinya yang begitu parah itu hampir sembuh. Kali ini, semoga saja aku benar.

“Kamu terlihat bahagia sekali. Bagaimana nilai UTS-mu?” aku bertanya antusias kepadanya.

Dia tersenyum cerah, “Alhamdulillah..”

Trans Pakuan yang aku tumpangi bersamanya mulai berjalan. Aku senang sekali menemukan dirinya yang hampir sudah seperti dulu, selalu menyenangkan berdiskusi dengan orang seperti dirinya. Aku rasa dia memiliki daya dimana orang akan antusias dan senang sekali berbicara dengannya. Dia seperti menguasai bermacam-macam topik pembicaraan, dan sesekali kami berdiskusi tentang tugas akhir karena kini, kami sama-sama duduk di semester 6.

Tak terasa hampir separuh perjalanan kami, aku pun tertidur. Praktikum yang melelahkan mungkin telah menghabiskan banyak sekali energi, belum lagi aku harus membetulkan revisi proposal penelitianku. Namun, belum sampai 10 menit aku tertidur, aku dikagetkan oleh suara isak tangis perempuan. Aku kaget setengah mati mengetahui orang yang menangis itu adalah perempuan di sampingku, perempuan berjilbab coklat muda itu.

Aku sentuh bahunya, sembari bertanya “Are you okay?”

Dia tidak menjawab. Aku semakin khawatir. Mungkinkah dia sakit? Atau ada masalahkah? Aku lihat jalanan di sampingku, macet dan crowded sekali. Pantas saja, sudah masuk jalanan paling utama di
Kota Bogor. Aku tanya sekali lagi, apakah dia sakit? Melihat begitu padatnya jalanan, aku semakin yakin untuk turun saja jika memang dia sakit.

“Kamu sakit?” aku menunggu jawabannya dengan harap-harap cemas.

Di luar dugaanku, dia justru mengalihkan badannya ke arahku. Perlahan dia menghapus air matanya. Aku memeluknya erat-erat. Diantara peluknya, dia berkata lirih, bahwa dia tidak sakit. Sembari meminta maaf telah membuatku khawatir.

“Aku minta maaf. Aku sudah membuatmu khawatir. Kukira memang sudah selesai. Setelah kejadian 5 bulan kemarin, aku mati-matian menyembuhkan luka lebam diseluruh penjuru hatiku. Tapi kali ini, aku sungguh tidak kuat menangis. Aku kira, luka itu telah menemukan kuncinya. Tiba-tiba saja, kuncinya terbuka dan seperti memukulku kembali untuk mundur dan menyerah.” Ucapnya serius.

Oh ya Allaah, ternyata dugaanku salah. Aku tahu, perempuan ini sedang berjuang habis-habisan menyembuhkan lukanya. Perempuan ini sedang berusaha keras untuk bisa berdamai dan memaafkan dirinya sendiri. Aku paham sekali bahwa ada yang belum selesai dengan urusan hatinya.

Aku mencoba memulai percakapan kembali dengan hati-hati, “Kamu tau apa yang harus kamu lakukan bukan?”

Dia mengangguk, sambil tersenyum tipis dia berkata kepadaku, “Aku hanya perlu didengarkan dan mengalirkan perasaan. Selebihnya insyaAllah aku akan berusaha berdamai dengan diriku sendiri. Aku memulai untuk memaafkan diriku sendiri. Memaafkan diriku sendiri bukan berarti aku harus mengembalikan semua salah kepadaku, terlebih yang paling penting aku berhak hidup tenang bukan? Mengingat setiap kebaikannya, agar aku tak perlu berat untuk memohon ampun untuknya. Aku juga berdoa supaya ketika bertemu kelak, dia akan menunjukan sikap yang lebih menyenangkan. Meskipun (mungkin) pada kenyataannya nanti, dia akan melakukan sebaliknya; tapi setidaknya aku merasa menang, karena aku tidak membalas keburukan dengan keburukan.”

“Dan masya Allaah tabarakallah, bukankah di Al-Qur’an dikatakan fa’fu’anhum wastagfirlahum, maafkan mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allaah. Kamu benar banget, Nab. Memaafkan dan memohonkan maaf membuat hidup kita terasa lebih ringan, aku pernah melakukannya dulu. Dan kamu juga benar, aku harus selesai dengan diriku sendiri karena banyak orang menungguku di luar sana.”

Mendengar jawaban itu, aku tersenyum dan bernafas lega. Semoga Allaah, selalu menetapkannya dalam kebaikan. Diskusi kami akhirnya terhenti setelah kami turun dari Trans Pakuan.

Tapi entah mengapa, perempuan itu selalu mengikutiku sepanjang hari. Entah itu, ketika aku makan, ia ada disana. Ketika aku sholat, dia ada. Saat perjalanan pulang, ia ada. Saat di perjalanan, ia ada. Ketika aku di rumah, ia ada. Bahkan ketika aku membuka laptop dan menulis cerita ini, dia pun ada. Aku baru menyadari, bahwa dari tadi akulah yang berbicara kepada diriku sendiri.


Bagaimana, kini hatimu telah lebih lapang bukan? Semoga kamu bisa cepat selesai dengan urusanmu sendiri pula.
Sabtu, 21 April 2018 0 komentar

Begitu Riuh

Sudah dua malam berlalu dengan hujan yang hampir selalu jatuh setiap dini hari. Tapi ternyata, hujan yang menenangkan setelah panas seharian tak mampu membuatku menutup mata barang sekejap pun. Sudah hampir seminggu ini aku tak pernah tidur dibawah jam 12. Padahal siangnya, aku selalu berkegiatan. Juga beberapa hari ini, aku seharusnya merasakan kelelahan karena sering sekali berjalan-jalan secara impulsif. Benar-benar impulsif sendirian saja. Entah itu ke swalayan terdekat dengan asal membeli apa saja, entah itu berjalan sendirian di keramaian malam di bara. Entahlah, aku merasa hati dan pikiranku sedang begitu riuh sehingga aku butuh pulang.

Apakah kalian pernah merasa dunia sedang riuh-riuhnya dan kamu ingin menepi sejenak saja?

Rasanya aku sedang berjalan dengan tenang, lalu tiba-tiba terjebak diantara hingar bingar konser di tengah jalan. Rasanya aku sedang begitu tenang menikmati makan siang, lalu tiba-tiba dikejutkan oleh seseorang dari belakang. Atau rasanya, ketika aku sedang begitu tenang menyetir kendaraan, lalu macet dan aku mendengar semua orang saling beradu membunyikan klakson dari masing-masing kendaraannya. Riuh sekali! Bukan ingin pulang seperti pulang ke kampung halaman atau setelah merantau jauh sekali, aku terkadang ingin menepi sejenak. Ya, sebentar saja.

Jika aku mengingat atau kalau mau memikirkan sejenak saja, mengapa dunia dan diriku ini begitu riuh dan crowded sekali, aku yakin, penyebabnya tidak lain dan tidak bukan karena aku terlalu lelah mengejar dan dikejar dunia. Berharap lebih pada manusia. Bersikap masokis. Semakin disiksa sensasinya semakin magis, meski kita meringis-ringis. Melihat orang dengan begini begitu di dunia nyata ataupun di dunia maya, sedangkan aku sebaliknya. Sudah banyak mengetuk pintu kesempatan tapi belum juga terbuka, sudah meminta dengan segenap pinta tapi masih belum dikabulkan, atau sudah berusaha melakukan yang terbaik (menurut versi kita) tapi gagal dan terus gagal, begitu seterusnya.

Entah bagaimana, keriuhan ini jujur saja membuatku ingin menangis. Aku merasa gusar dan hilang ketenangan. Bahkan, untuk sekedar tersenyum atau membalas pesan juga sapaan orang begitu melelahkan. Aku merasa tidak nyaman. Ingin semua baik-baik saja.

Ah Nabila... tapi apakah kamu lupa atau pura-pura lupa?

Bahwa dunia memang diciptakan riuh, gaduh, melenakan, melelahkan, dan tak ada yang benar-benar ideal. Mengapa demikian?

Tentu saja, karena dunia adalah sebuah ruang angkasa dimana aku akan diuji dan ditantang membuktikan keimanan dan kesabaran.

Dear Nabila, harap tenang. Dunia boleh riuh, kamu jangan. Dunia boleh gaduh, kamu yang harus tetap tenang dalam kesabaran. Tenanglah, seriuh apapun itu. Sekalut apapun keadaan hatimu. Memang tak mudah untuk tetap tenang dalam menghadapi setapak demi setapak perjuangan. Memang tak mudah untuk tetap sabar dalam menghadapi berbagai luka lebam. Tapi sungguh, kamu yakin bukan Allaah tentu saja tidak akan tingggal diam? :’) tidak ada seorangpun dari kita yang tetap dibiarkan dalam kesedihan :”)



And that’s why if we life in dunya with our hearts, it breaks us. That’s why this dunya hurts. It is because the definition of dunya as something temporary and imperfect. You just get burned. Only when we stop trying to make the dunya into what it is not – and was never meant to be (jannah) – will this life finally stop breaking our hearts.” (Reclaim Your Heart – Yasmin Mogahed)
Kamis, 12 April 2018 0 komentar

(Ambisi) Siapa Yang Lebih Hebat?

Ada satu hal yang baru aku sadari, yaitu tentang kebenaran sebuah ungkapan. Dulu, orang-orang ramai berkata bahwa ibu kota lebih kejam dari ibu tiri. Sekarang ada yang berkata, bahwa ibu jari netizen lebih kejam dari apapun di dunia ini. Tanpa sadar, aku sangat setuju dengan perkataan itu. Media sosial masa kini telah menjelma menjadi arena sindir, bully, atau bahkan pengingat diri yang tanpa sengaja menyakiti orang lain. Bagiku, subjeknya juga macam macam. Dari yang tak tahu etika bermain media sosial, namun ada juga mereka yang berpendidikan namun tetap saja berlaku demikian. Body shaming sepertinya sudah menjadi hal yang wajar. Mengomentari fisik seperti badannya gendut, alisnya tipis, hidungnya pesek sudah menjadi hal yang lumrah. Makan di warteg diintimidasi karena miskin dan bangkrut. Sedikit pipi tirus menjadi alasan untuk dikomentari stress dan depresi. Ibu-ibu sibuk berkarya, bekerja, dan berkontribusi di luar rumah cukuplah menjadi serangan bahwa mereka-mereka telah menyalahi kodratnya sebagai perempuan yang seharusnya mengurus suami dan anak di rumah.

Cukuplah kita semua memaafkan sifat-sifat mereka yang tidak mengetahuinya. Namun, sebagai orang-orang yang paham bahwa hal tersebut membahayakan, sadarkah kita bahwa bisa saja kita yang melakukan hal tersebut? Tegakah kita bila sama-sama menyakiti hati saudaranya meski tidak sengaja? Berawal dari bercanda, memberikan saran dengan cara, waktu dan tempat yang tidak tepat, lalu mengingatkan diri sendiri namun menyisakan luka di hati saudara kita. Contoh kecil, bisa saja kita memposting keinginan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, meninggalkan pekerjaan kita meski pekerjaan tersebut sudah bertahun-tahun kita jalani, lalu memposting tentang bermacam-macam hadist dan ayat Al-Qur’an yang mendukung keinginan kita tersebut. It’s okay you do that. Tapi, terpikirkah kita bisa saja hal-hal tersebut menyakiti sesama ibu pekerja? Aku memang masih single dan belum mempunyai keluarga kecil sendiri, tapi aku tahu betul bagaimana perasaan ibuku yang wanita karir setiap kali melihat kalimat-kalimat itu di laman facebooknya.

Mereka banyak sekali yang mengunggah penyesalannya, kekhawatirannya, lengkap dengan dalil juga firman-firman ayat Al-Quran yang memperkuat keinginan mereka. Perlu digaris bawahi disini, bahwa itu tidaklah salah, itu adalah benar. Tapi bisakah kita belajar menjadi pribadi yang sedikit lebih bijaksana lagi? Bagaimana kita bertutur kata di media sosial jelas sangat berbeda ketika kita bertutur kata di dunia nyata. Berbicara di dunia nyata akan lebih mudah diluruskan ketika salah paham. Namun, berbeda halnya ketika kita berbicara dan beretika yang tak sesuai ketika di linimasa. Akan sulit sekali meluruskannya. Bukan hanya masalah ibu pekerja atau ibu rumah tangga, hal-hal seperti membagikan romansa pernikahan di linimasa juga kerap menjadi nafas tertahan bagi orang-orang yang belum menikah, unggahan-unggahan manis foto-foto kehamilan menjadi sesuatu yang menyakitkan bagi pasangan yang sejak lama mendamba seorang anak. Sekali lagi, itu tanpa berniat menyakiti mereka. Tapi alangkah lebih elok lagi, apabila kita mengetahui apa yang kita inginkan telah Allaah kabulkan, lebih baik kita banyak bersyukur dan memilih diam. Bukan. Bukan karena aku iri. Tapi mungkin lebih kepada menjaga perasaan saudara-saudara kita. Bukankah kemarin-kemarin kita pernah ada pada posisi seperti mereka?

Ibuku sendiri bangun sebelum jam setengah 5 pagi, memilih meninggalkan kamarnya dan mengurangi jatah tidurnya padahal sehari sebelumnya ibuku memasak untuk catering, mencuci, menyetrika baju, membersihkan rumah, hanya untuk menyiapkan sarapan dan camilan sehat untuk adik-adikku. Lalu bagaimana dengan mengandung 9 bulan, 3 kali melahirkan menyambung jiwa dan raga demi aku dan adik-adikku, belum lagi membesarkan dan menyusui demi menyambung kehidupanku dan kedua adik-adikku, membiayai full kehidupan dan pendidikan ketiga anaknya, begadang sepanjang malam ketika anak-anaknya sakit, mengerahkan semua kekuatannya, merapal semua doa-doa untuk kesuksesan, kesehatan, dan kebahagiaan anak-anaknya. Tidakkah itu semua cukup membuktikan bahwa sebenarnya ibu pekerja seperti ibuku juga tetap hebat seperti ibu-ibu rumah tangga?

Ada berjuta alasan, mengapa perempuan memilih menjadi wanita pekerja begitupun dengan konsekuensinya. Entah itu karena suaminya sakit, suaminya meninggal, atau menjadi single parent. Lalu, aku ingin bertanya? Bagaimana dengan dosen-dosen perempuanku yang berpendidikan tinggi sampai S3 bahkan menjadi profesor atau amrita? Mereka semua adalah seorang ibu. Berangkat pukul 06.00 pagi menuju kampusku, lengkap dengan sarapan yang sudah tersedia juga pekerjaan rumah tangga yang sudah rapih dan selesai. Pantaskah mereka mendapat sindiran atau setidaknya dilukai hatinya meski postingan itu berawal untuk mengingatkan kita saja? Bukankah mereka-mereka semua yang mendidik dan mengajarkan anak-anak kita kelak menjadi orang-orang yang berbudi pekerti juga berwawasan luas?

Jadi siapa yang lebih hebat? Siapa yang paling merasa menjadi seorang ibu sesungguhnya? Siapa yang lebih mulia?

Ibu rumah tangga, ibu dosen, ibu guru, ibu dokter, ibu penulis, ibu karyawan, ibu penjual online, ibu tukang sampah, ibu pemulung, ibu direktur, ibu penyapu jalan, ibu penjaga soto, semuanya mulia. Tidak ada rumus sekalipun yang mampu membandingkan mana lebih tinggi dan lebih rendah atas pilihan kita dibandingkan dengan pilihan orang lain. Karena sekali lagi, setiap perempuan memiliki berjuta alasan mengapa dirinya memilih untuk bekerja. Jadi, bisakah kita saling menghargai? Bisakah kita saling menghormati pilihan masing-masing?

Tolong ya ibu-ibu yang sudah berumur, ibu-ibu muda, juga shalihah (yang insyaAllaah akan segera berkeluarga) jangan lukai keikhlasan ibu-ibu pekerja dengan postingan-postingan yang tanpa sadar menyakiti hati perempuan lainnya, meski kita sering memberi alasan bahwa itu hanya untuk pengingat kita seorang :’)


Karena meskipun mereka-mereka semua adalah ibu ibu pekerja, tapi mereka tetaplah seorang ibu.
Sabtu, 23 Desember 2017 0 komentar

Semoga Harga Maafmu Tak Semahal Kemarin


Suatu hari, kamu mungkin menemukan dirimu begitu sulit memaafkan kesalahan orang lain. Sebab yang telah dilakukan olehnya bisa saja; mengkhianati kepercayaan, melanggar janji, menertawakan mimpi, mematahkan semangat, melukai dengan ucapan ataupun perbuatan, atau bahkan memasuki pintu kehidupanmu begitu dalam lalu membuat kekacauan di dalamnya. Apapun alasannya, ketika memaafkan menjadi sesulit itu, maka sebabnya sudah pasti bukan sebab-sebab yang biasa sehingga kamu merasa tersakiti sebegitu dalamnya. Hatimu begitu terluka sebegitu hebatnya, sehingga mungkin kamu merasa sangat kesulitan mengingat apa apa yang telah terjadi sebelumnya dan memaafkan begitu saja, sehingga kata maaf itu tidak bisa kamu berikan secara cuma-cuma.

Perasaan itu kemudian mengubahmu. Mengubahmu menjadi lebih pendiam dan sering menyendiri. Entah bagaimana luka-luka itu bertransformasi mengubah sifat-sifatmu. Kamu pun sampai terkaget kaget dibuatnya. Caramu berinteraksi dengan teman-temanmu berbeda, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Luka-luka itu pula yang mengubahmu menjadi lebih pemarah, sehingga kamu sendiri merasa tak mampu melihat kebaikan sekecil apapun yang pernah dilakukannya, membuatmu begitu marah dan tersakiti dengan kesalahan kecil yang dilakukan oleh orang yang menyakitimu.

Kamu merasa tidak kenal dengan dirimu yang begitu dingin, mudah marah, dan ketus. Tapi memang begitu, di hari itu kamu merasa begitu lelah untuk menanggapi, berinteraksi, berkomunikasi, beramah tamah dengan yang lain, karena mungkin hal ini begitu menghabiskan energimu.

Kamu merasa tidak kenal dengan dirimu yang tiba-tiba begitu menyederhanakan kata-kata, tapi di hari itu entah bagaimana kamu merasa tak ada yang perlu diceritakan, sebab dengan tersenyum saja rasanya seperti melelahkan luar biasa.

Energi saat sulit memaafkan orang yang menyakitimu itu ternyata besar, sangat besar! Jika boleh, kamu mungkin ingin berteriak di depan mukanya, menyampaikan marah, sedih, kecewa, bahkan mungkin membentaknya dan menyuruhnya pergi sejauh yang dia bisa sehingga kamu tak dapat lagi menemukannya. Namun, secercah kebaikan dan ketulusan dalam hatimu menahannya. Sebab kamu dan hatimu memahami, jika benar kamu melakukannya, yang berperan adalah hawa nafsumu, bukan hatimu yang tulus dan seluas langit dan lautan itu.

Di akhir tahun ini, sudahkah kamu memikirkan dan berbicara pada dirimu sendiri mengapa kamu menjadi demikian?

Kamukah itu, yang memendam amarah di dalam hati sehingga kamu tersakiti sendiri? kamukah itu, yang menggenggam benci hingga tak ada ruang untuk menerima kebaikannya kembali? Sungguh kamukah itu, yang harga mahalnya begitu tinggi sehingga tak mampu terbeli? Benarkah kamukah itu, yang menjadikan kesal dan amarah sebagai bahasa ibumu sehari-hari?

Bukan sayang! Itu bukan kamu, bukan dirimu, bukan hatimu. Kamu adalah orang yang mudah memaafkan. Kamu adalah orang yang hatinya seluas langit dan lautan. Dan kamu adalah orang yang kata-katanya begitu meneduhkan. Maka, meski ia menyakitimu, menghancurkan benteng pertahanan dan kekuatanmu, menyisakan luka berdarah-darah di hatimu, didiklah hatimu untuk bisa memaafkannya. Kamu paham sekali bukan, pemenang bukanlah orang yang menunggu orang lain meminta maaf dan menjadikan maafmu begitu mahal harganya sehingga tak mampu terbeli. Tapi, pemenang ialah dia yang memaafkan dengan tulus tanpa banyak pertimbangan. Kamulah itu orangnya, sayang.

Bagaimanapun, orang-orang yang menyakitimu pasti tidak memiliki niat menyakitimu sejak awal, sebab mungkin saja ia tidak sengaja melakukannya, tidak bermaksud melukai hatimu, tidak bermaksud mengacak-acak ruang di hatimu. Sebab kita semua tahu bahwa semua adalah takdir dan ketetapanNya. Allaah sungguh ingin kita belajar. Allaah sungguh ingin membuat kita tumbuh, kuat dan berdaya.

Jadi, sudah cukup kamu mengikuti egomu. Sekarang, sudah selesai dan maafkan ya! :') Sebagaimana manusia yang tak luput dari khilaf dan dosa, kita sama-sama memiliki potensi saling mengecewakan juga melakukan kesalahan. Namun mereka yang menyakitimu juga berhak untuk dimaafkankan.


Sebab ketika kamu telah dengan tulus memaafkan, maka kamu telah memenangkan 2 hadiah besar darimu dan untukmu. Hadiah untuk mengalahkan ego dan hawa nafsumu. 

Selamat sayang, kamu sudah memenangkan! Dan, semoga (selamanya) harga maafmu sekarang tak pernah lagi semahal kemarin :')
Minggu, 03 Desember 2017 0 komentar

Jika Memang Tak Baik Untukmu

Entah mengapa, aku selalu suka memandangi pemandangan gunung yang terhampar di depan mukaku sehabis mengajar di CCR atau selepas senja di sepanjang jalanan kampusku ketika aku sedang berjalan-jalan. Indah, megah, dan berwibawa. Namun, di balik keindahan dan kemegahannya dan jika kita sadari lebih lanjut, perlu perjuangan untuk mencapai gunung tersebut. Mungkin saja ada jalanan licin yang dapat mencelakakan langkah kita, lereng yang curam dan terjal, atau patahan dahan tak beraturan yang mengganggu perjalanan. Begitulah. Selalu ada hal-hal yang perlu kita lihat lebih dekat agar kita mengerti dengan pemahaman yang lebih baik, bukan hanya praduga yang muncul dan menguasai pikiran kita.

Pada dasarnya, dalam pandangan mengenai pilihan-pilihan hidup. Kita selalu menganggap baik, ideal, pantas, indah, dan segalanya tentang apa yang menjadi preferensi kita. Tapi sebenarnya, pandangan itu bisa saja menjadi bias dan keliru karena pada kenyatannya tidak selalu demikian. Hal inilah yang menyebabkan ujian-ujian Allaah datang kepada kita. Karena Allaah selalu ingin yang terbaik. Maka Ia mengubah apa-apa yang mungkin saja menurut kita baik menjadi versi terbaik menurut-Nya, meskipun hal itu sulit untuk kita terima. Bagaimanapun caranya, mudah saja bagi Allaah untuk membuat kita terlepas darinya. Entah dengan membelokkan arah kita, melepaskan perasaan kita yang tertaut padanya, menunjukan fakta-fakta tentangnya, atau dengan cara lain yang mungkin saja tidak dipahami oleh logika kita sebagai manusia.

Bagaimanapun, Allaah tidak ingin kita terlena dengan memandang gunung yang di benak kita hanya tergambar keindahannya saja. Dia ingin kita melihat segala sesuatu yang ada di baliknya. Maka diperjalankanlah kita menuju preferensi yang awalnya subjektif menjadi fakta yang objektif. Meski kadang perjalanan menemukan kebenaran itu begitu pahit dan menyakitkan untuk kita. Meski kadang hasil yang didapat tak sesuai dengan pikiran dan hati kita.

Lalu, pernahkah kamu menjalani takdir dimana kamu dibuat dekat sekali dengan preferensi yang baik itu kemudian perlahan-lahan Allaah tunjukan satu persatu fakta dan kejadian yang membuatmu sadar bahwa pandanganmu itu keliru?

Jika itu pernah terjadi kepadamu, hal yang pasti kamu lakukan sebagai manusia untuk pertama kalinya adalah menepis fakta, sebab kita masih berfikir apa yang baik menurut kita berselisihan dengan apa yang sebenarnya terjadi. “Ah masa sih begitu? Mungkin saja dia lagi lelah! Nggak mungkin dia ngelakuin itu!” dan lain-lain. Begitulah gemuruh dan rusuhnya hati kita, padahal nyatanya Allaah sedang memperlihatkan kebenaranNya dan selalu saja kita tolak kebenaran itu. Tapi sekali lagi, Dia-lah Allaah, Tuhan yang Maha Baik, yang tetap saja menunjukan jalan kebenaran itu sampai akhirnya kita paham akan satu-persatu jalan kebenaran yang ditunjukan oleh-Nya dan sadar bahwa kita telah keliru dalam mempersepsikan sesuatu.

Sekali lagi, keindahan gunung-gunung yang kita pandang dari kejauhan tidaklah sama ketika kita memperpendek jarak pandang dalam melihatnya. Maha Baik Allaah, yang selalu menunjukan kebenaran dengan segala caraNya hingga pada akhirnya kita bersedia mengikuti apa-apa yang telah ditetapkan olehNya saja. Maka atas segala preferensi-preferensi apapun yang ada di hati kita, semoga di dalamnya selalu ada ruang untuk menerima apa-apa yang menjadi kehendakNya dengan penuh kelapangan dada. Sebab pada akhirnya, ketenangan hati akibat penerimaan yang luaslah yang membuat hidup kita lebih tenang dan berjalan ringan.

Ketika kehendak Allaah tidak sama dengan apa yang menjadi kehendak kita, tetap bersabar dan berbaik sangka ya! :’) tenanglah dengan iman yang ada dalam genggaman. Juga kesabaran yang mampu mengalahkan luasnya langit dan dalamnya samudera. Urusan yang tidak menjadi takdir kita di depannya, semoga Allaah putuskan segala keterputusannya. Karena kita berhak untuk hidup tenang, ringan, lapang dan bahagia :)

Allah, aku membuka Desember dengan luka dan air mata, namun terdapat syukur dan kelegaan yang luar biasa atas segala perlindungan dan kebenaranMu di ujung cerita, sebab begitu cepat Engkau tunjukan kepadaku bahwa pandangan-pandangan itu telah keliru terhadap sesuatu. Hari ini, esok dan seterusnya.. semoga aku tak lagi membuang waktu untuk tetap bertahan atas segala preferensiku jika memang tak ada kebaikan untukku di dalamnya. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku sampaikan permohonan maaf, sebab seringkali aku terlambat mengerti pada apa yang telah menjadi takdirku atas kehendakMu.


Bogor, 3 Desember 2017
Rabu, 28 September 2016 0 komentar

Tulisan : Menjaga Komitmen

Sampai hari ini, saya sudah memasuki minggu ke-4 perkuliahan di semester 3. Dan hari minggu di minggu ke-3, saya pun jatuh sakit. Tak jauh dari sakit yang biasa menyerang mahasiswa. Terlalu letih, demam, dan gastronitis karena mungkin terlalu sering telat makan.

Berbeda seperti kehidupan saya di TPB atau Tingkat Persiapan Bersama (tahun pertama dimana mahasiswa mahasiswi IPB mempelajari dan mengulang pelajaran SMA) yang  begitu menjenuhkan karena kegiatannya tak lebih dari kuliah dan praktikum. Di semester 3 ini saya mulai menemukan dinamika kehidupan kampus yang berbeda sama sekali dengan masa masa TPB dulu.

Beberapa kali saya begadang mengerjakan artikel, juga mengebut laporan agar bisa selesai malam itu karena saya tipikal orang yang tidak bisa belajar dan mengerjakan tugas setelah berletih-letih kuliah sampai menjelang senja. Kadang saya mengeluh lelah, kesal, tugas seakan tidak pernah berhenti juga praktikum yang sudah seperti jadwal harian yang tak terpisahkan.

Belum lagi dosen-dosen yang mengajar saya sekarang banyak sekali lulusan Jepang bergelar Doktor dan Professor, bagaimana disiplinnya, bagaimana mahalnya waktu mereka. Pernah suatu waktu, ketika saya terlambat datang ke kampus dan waktu yang tersisa tinggal 5 menit, saya lari sekencang-kencangnya memburu lantai 5 dengan gedung kuliah berbentuk heksagonal yang membingungkan. Sekali lagi harus saya katakan, dosen praktikum saya pernah menuntut ilmu di Jepang dan tak ada kata "toleransi" untuk sebuah keterlambatan. Temen terdekat saya pun, tak luput dari sasaran kedisiplinannya karena tiba-tiba sepatu sandalnya hilang atau di buang oleh beliau.

Meski saya harus berlelah-lelah, namun alhamdulillah pada akhirnya saya menikmati dan mulai terbiasa dengan kehidupan saya yang sedikit lebih padat ini. Meski sekarang saya sering sekali mengoleskan minyak angin atau krim ke kedua betis saya karena terasa pegal, namun pada akhirnya saya tetap berbahagia dengan apa yang saya putuskan dan bahkan saa jadikan sebagai "life goals" sejak saya berumur 17 tahun.

Beruntung dan kebetulan, karena setiap hari Senin sore, departemen kuliah saya sengaja memasukkan mata kuliah Pengembangan Jati Diri Sarjana Perikanan dan Kelautan sebagai mata kuliah penutup di hari Senin yang melelahkan. Mata kuliah yang khusus membahas motivasi, sukses, goals, dan juga cinta yang membawa kami ke kampus hijau ini.

Namun, saya sungguh menangis sore ini. Kelelahan, kesepian, juga beban mengisi penuh tubuh, hati, dan pikiran.

Ya Allah, seharusnya saya malu ketika saya lupa bersyukur. Seharusnya saya malu ketika mengetahui tak semua orang berkesempatan untuk kuliah. Benar, setiap hamba pasti mempunyai bentuk cobaan yang berbeda. Namun, jika diteliti lebih cermat lagi, ini bukanlah suatu cobaan. Melainkan nikmat yang perlu disyukuri. Duduk manis mendengarkan dosen mengajar, berkesempatan diajar oleh guru besar, menerima ilmu berharga dari mana saja, belajar di ruangan nyaman dengan fasilitas sangat baik, bebas berorganisasi, bebas memulai bisnis kecil-kecilan, bebas berargument positif. Seharusnya itu membuat saya lebih bersyukur :')

Mungkin memang benar, setiap niat harus selalu disertakan dengan komitmen. Karena tanpa komitmen niat hanyalah sebatas niat. Sama sama seperti orang yang berniat baik namun tak ada aksinya. Sama seperti keinginan yang hanya diimpikan saja. Ah, saya seperti ini mungkin karena saya mulai mengendurkan komitmen.

Bukankah komitmen yang akan terus menjaga niat tepat pada tempatnya?

Darmaga, 28 September 2016
(Pojok Al-Hurriyah, menjelang senja dengan tangis)





 
;